Saya hanyalah cerpenis pemula yang masih belajar. Banyak cerpen saya, tetapi tidak pernah saya kirimkan ke media massa. Saya masih malu dengan kualitas cerpen saya. Tetapi bagi saya, menulis itu terapi. Terapi untuk menuangkan kegelisahan, menghilangkan kegalauan, keraguan. Menulis itu menenangkan, membuat saya bahagia, membuat saya lebih memahami sesuatu.


Maka dari itu, saya menulis artikel ini. Karena, ketika saya menulis tips menulis, atau membuat daftar tips menulis dari penulis terkenal. Saya merasa, kemampuan saya menulis semakin terasah. Maka, jika kamu merasa berada di artikel yang salah. Berhentilah membaca sampai disini.

1. Menulislah dengan buruk

Saya mendapatkan nasehat ini dari AS. Laksana, dalam bukunya Creative Writing. Dan, saya sendiri mendapatkan manfaat dengan metode ini. Metode ini mengajarkan kita untuk menulis apa adanya sesuai isi kepala kita. Jadi, kita tulis apa saja, seburuk apapun itu. Tulisan yang buruk lebih baik daripada kertas kosong. Kita bisa mengedit tulisan yang buruk, tetapi kita tidak bisa mengedit kertas kosong.

Jika kamu ingin menjadi cerpenis, novelis terkenal. Mulailah menulis cerpen yang buruk. Yang penting jadi draft cerpen yang utuh. Kalau bisa sekali duduk langsung selesai. Tahap pertama ini, jangan peduli kualitas cerpenmu.

2. Menulislah dari hati

Menulis dari hati itu penting untuk terapi. Keluh kesah kita, lebih baik dituangkan dalam bentuk karya tulis cerpen yang membuat kita sadar. Bahwa, kenyataan kita ya memang seperti itu. Perasaan kita tertuang dalam setiap kata cerpen kita. Untuk itu, saya sendiri sering menulis diari yang untuk saya baca sendiri.


3. Menulis ketika menghadapi masalah

Menulis ketika menghadapi masalah mempermudah penemuan jalan keluar. Ketika menghadapi sebuah masalah, saya sering menulis, jika sempat. Karena, menurut pengalaman pribadi saya, ketika saya menuliskan masalahnya secara mendetail dalam sebuah tulisan. Justru masalah yang tadinya saya pikir rumit, ternyata sangat sederhana. Karena dalam menulis, saya bisa menuliskan berbagai alternatif yang mungkin dan jelas-jelas bisa dilakukan. Dengan metode ini, saya bisa lebih tenang menghadapi masalah.

Menulis buat saya seperti bercurhat kepada otak. Saya menulis dengan hati, supaya segenap kegelisahan menemukan tempatnya. Setelah sekian lama menulis buku diari. Ketika ada waktu luang, saya membaca lagi buku diari itu. Saya tersadar, bahwa saya telah banyak berubah. Saya telah berproses menjadi lebih dewasa, lebih bijaksana dan lebih peduli terhadap apa yang saya rasakan.

4. Mengedit dengan otak

Menurut saya, nasehat paling sederhana dalam menulis adalah menulislah dari hati, mengedit dengan otak. Ketika kita mengedit dengan hati, kita mudah lelah. Apalagi menulis sambil mengedit. Lelahnya bukan main.

Ketika kita, pada tahap awal menulis, tidak memperdulikan typo, kalimat yang tidak koheren, logika terbalik. Tulisan kita lebih mulus meluncur hingga finish.

Tetapi, ketika kita menulis dengan harapan, sekali tulis, tulisan langsung jadi. Kita mendapatkan beban ganda. Beban pertama, mencurahkan segala perasaan dalam karya. Kedua, mengedit segala aspek tulisan supaya sempurna. Sebuah upaya yang berat.

Jika kita membagi tugas dengan menulis dengan hati, mengedit dengan otak. Kita menulis dan mengedit di waktu yang berbeda. Biarkan hati mencurahkan segala keluh kesahnya. Biarkan ia bicara sampai tuntas. Sampai benar-benar selesai. Baru otak kita suruh baca lagi, edit sampai puas.


5. Jangan kebanyakan baca tips menulis


Paradox memang, ketika sekarang kamu membaca tips menulis. Tetapi, justru saya menyarankan kamu untuk jangan kebanyakan membaca tips menulis. Membaca tips menulis itu baik, tetapi, ketika kita mengikuti berbagai tips menulis. Sebenarnya kita sedang ingin memakai banyak gaya dalam menulis.

Berdasarkan pada meme yang sering kita lihat. Gaya mempengaruhi tekanan, semakin banyak gaya, semakin banyak tekanan. Semakin banyak tekanan, kita tidak kunjung menulis.

6. Jangan berharap terlalu banyak

Hal ini saya rasakan sendiri. Ketika kita ingin segera punya karya, kita memaksa diri kita untuk terus menerus menciptakan karya dalam waktu singkat. Lalu berharap tulisan kita akan disukai orang, buku kita akan diterima penerbit, lalu bestseller. Terlalu banyak berharap membuat kita melupakan kualitas.

7. Akan ada saatnya
Untuk kita yang sedang berjuang menulis sebuah karya yang mempesona. Kita sekarang sedang berproses. Hargailah setiap karya yang kita ciptakan sendiri. Memang buruk. Tetapi itu anggapan kita yang masih belum berpengalaman. Semakin lama kita berkecimpung dalam dunia tulis menulis, saya yakin kita semua, pada saatnya kelak, akan mampu melahirkan karya yang berkualitas.