Kita belajar menulis sejak kecil. Tetapi, begitu beranjak dewasa, kita mulai meninggalkan menulis diari. Kita masih menulis, tetapi dalam batas pekerjaan. Terakhir menulis tulisan panjang, mungkin menulis skripsi. Mungkin, jika skripsi tidak diwajibkan dalam bentuk tulisan, kemungkinan besar kita akan memilih alternatif lain yang lebih mudah.
1. Menulis itu menyehatkan
Tahukah kamu bahwa Presiden BJ. Habibie pernah mengidap Psikosomatis malignan, suatu kondisi dimana Habibie mengalami kesedihan yang amat dalam, jika salah-salah dalam menghadapi kesedihan tersebut, maka dapat berujung kematian.

Setelah berkonsultasi dengan dokter, salah satu alternatif yang diberikan adalah menulis. Maka Habibie menulis buku yang berjudul Habibie dan Ainun.
2. Menulis sebagai Stress Release
Stress adalah sebuah kondisi kejiwaan yang rentan. Dimana pelakunya mendapatkan banyak beban pikiran, sehingga tidak dapat berpikir jernih. Stress bisa timbul karena pola sikap menghadapi masalah yang salah. Atau, bisa jadi karena terlalu banyak berpikir, sehingga tidak menemukan solusi, tetapi berujung pikiran yang semrawut.

Menulis secara bebas dapat menjadi stress release, melepaskan stress. Stress dapat disalurkan ke dalam bentuk tulisan abstrak. Karena dengan menulis, konsentrasi terfokus pada tulisan. Pikiran memikirkan kata yang tepat untuk melukiskan perasaan. Tubuh, melalui tangan bekerja untuk mewujudkan kata-kata itu menjadi tertulis. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa, ketika seseorang menulis, semua perhatiannya beralih menuju objek baru, yaitu tulisan. Sehingga kemelut di dalam pikiran terabaikan.
3. Menulis sebagai proses belajar logika
Mau tidak mau, atau secara tidak sadar. Ketika kita menulis, secara bersamaan kita sedang melakukan proses berpikir. Dalam proses berpikir itu kita merangkai logika kita supaya runtut. Kita mulai mengingat kembali awal dari kejadian, sumber masalah, waktu terjadinya masalah, dan bagaimana masalah itu terjadi.

Setelah semua proses berpikir itu berlangsung ketika menulis. Secara intuitif, kita seolah dipertemukan dengan banyak celah solusi yang selama ini tidak terlihat. Karena kita terlalu fokus kepada masalah, bukan solusinya.
4. Menulis memicu proses bahagia
Mood yang sedang down sering terjadi ketika kita berpikir kita sedang berada pada masalah besar. Sebetulnya tidak juga, karena ketika kita memulai untuk menulis, kita sedang berekspresi sebebas-bebasnya. Sebagian besar ketidakbahagiaan manusia dipicu oleh tekanan yang menghambat seseorang untuk berekspresi.
5. Menulis adalah menyatukan kesadaran
Kesadaran manusia adalah konsep yang abstrak. Letak kesadaran manusia bisa berpindah-pindah. Satu dengan yang lain, bisa jadi berbeda. Kesadaran manusia juga terbagi-bagi dalam berbagai fokus. Kesadaran manusia menyatu ketika sedang dalam proses menulis
6. Menulis membuat pikiran tenang
Jika tidak percaya, cobalah ketika sedang mengalami suatu masalah. Kemudian, tulislah masalah tersebut, entah dengan tulisan tangan, atau catatan di gawai. Tulis secara keseluruhan masalah. Seolah bercerita kepada seseorang yang paling dipercaya.

Lihatlah perasaanmu, perhatikan perubahan pikiranmu.
7. Menulis sebagai ekspresi
Kita tidak bisa seenaknya berkata kata kasar. Tetapi, ketika menulis kata-kata kasar tersebut, yang terjadi adalah sesuatu yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
8. Menulis untuk menemukan diri sendiri
Cobalah untuk menjelaskan siapa diri kita secara gamblang dalam sebuah tulisan. Pasti susahnya bukan main. Tulis semua kelebihan, kekurangan, harapan, keyakinan, keinginan. Jika ini berhasil, selamat, kamu telah mengenal dirimu sendiri dengan baik.