Benarkah original itu ada?


Mempertanyakan berbagai hal membuat pikiran menemukan asumsi.Asumsi ini menjadi milik pribadi masing-masing. 

Waktu kita masih muda, kita sering mendapatkan motivasi berupa, "jadilah diri sendiri." Kita terus menerus penasaran, dengan sebuah istilah jati diri.

Memotivasi, juga sekaligus membingungkan. Karena semakin dewasa kita akan semakin banyak menemukan kontradiksi. Antara apa yang dulu kita yakini dengan apa yang sekarang kita ketahui.

Waktu sebelum masuk di Loragon Creative Works. Saya meyakini keajaiban itu ada. Tetapi, ketika keajaiban itu bisa dijelaskan dengan nalar. Maka keajaiban itu musnah sihirnya.

Problematika sosial yang terjadi di masyarakat. Semakin kita mempelajari social psycology. Kita akan semakin jelas melihat fenomena yang terjadi. Bisa memahami bagaimana sesuatu terjadi. Bagaimana seseorang bisa melakukan hal tertentu. Tanpa mengenalnya terlebih dahulu.

Misalnya, kenapa Si Culun menjadi culun. Sedangkan, Si Populer tetaplah menjadi Populer seumur hidupnya. Kesampingkan dulu yang namanya bakat. Tetapi lihatlah lebih dekat, apa yang dia lakukan. Lebih dekat lagi, lihatlah apa yang dia yakini dan bagaimana dia meyakini sesuatu. Buatlah hipotesa terhadap penyebab dia bisa seperti itu.

Setelah itu, kamu akan menuju pada konteks dan sejarah hidup seseorang.

Kembali ke tahun 2014.

Dari SMP saya terobsesi menjadi penulis. Karena novel Laskar Pelangi. Sejarahnya, saya suka membaca dan saya suka menulis (tangan). Membuat catatan-catatan atas pelajaran menjadi kesenangan tersendiri bagi saya. Sedangkan membaca, membuat saya "merasa" lebih dari orang lain. 

Meskipun perasaan "merasa lebih dari orang lain" ini segera musnah. Karena semakin banyak membaca, semakin saya merasa bodoh. Dan itulah kenyataannya. Kepintaran manusia itu lebih sedikit dibandingkan kebodohannya.

Back to the point.

Jika kamu ingin mengetahui bagaimana seseorang itu menjadi penakut. Maka lihatlah sejarah hidupnya. Apa yang terjadi kepadanya. Bagaimana ia merespon apa yang terjadi kepadanya. Lalu buatlah hipotesa.

Kita sekarang sedang membahas bagaimana seseorang menjadi penakut.

Penakut adalah proses dimana seseorang mendapatkan banyak ancaman. Kemudian meyakini ancaman itu untuk seumur hidupnya. Padahal, hanya dengan satu kali sesi terapi. Ancaman itu bisa dihilangkan dari pikirannya.

Bagaimana seseorang meyakini fakta yang "tiba-tiba" datang kepadanya. Fakta itu akan menjadi kepribadiannya, menempel pada dirinya.

Tidak ada jati diri yang orisinil, kita semua menyontek.

Kalimat barusan adalah kesimpulan saya setelah menonton video  Vincent Ricardo 

Kesamaan referensi (baca : sejarah hidup) bisa membuat orang menjadi mirip secara personality.

Kepribadian kita adalah kumpulan dari macam-macam kepribadian yang ada, kita ambil satu porsi dari Si A, ambil porsi lainnya dari Si B. Lalu mengumpulkannya, mengkombinasikannya menjadi kepribadian kita. Lebih tepatnya, kita mengedit kepribadian kita. Sesuai keinginan kita.

Padahal keinginan dapat berubah karena pengetahuan.

Level pengetahuan kita akan menjadi penentu apa keinginan kita.

Semakin berpengetahuan, semakin berkeinginan. Semakin banyak pengetahuan, semakin banyak keinginan.

Ilmu yang kita miliki akan menentukan apa yang ingin kita lakukan dan kita miliki. 

Jika kamu menderita fobia, kamu bisa sembuh dari fobia. Jika kamu yakin, kamu akan selamanya fobia dan tak ada orang yang bisa membantumu sembuh dari fobia. Kamu benar. Karena, ketika kamu mulai meyakini hal tersebut (tidak bisa sembuh) kamu menutup pintu untuk orang-orang yang bisa membantumu sembuh dari fobia.

Mulai sekarang, periksa lagi keyakinanmu terhadap sesuatu. Apakah keyakinanmu sudah benar. Apakah keyakinanmu sekarang justru menghambatmu menjadi pribadi yang lebih baik. Menghambatmu untuk sembuh dari fobia?

Jika sesuatu itu baik untukmu, tetapi kamu merasa tidak layak mendapatkan kebaikan itu.

Ada yang salah dengan keyakinanmu.

Mungkin, kamu terlalu menikmati ketidaktahuan dan tidak menyukai ilmu.

Apapun pilihanmu, itulah pilihanmu.

Hati-hati menentukan pilihan hidupmu, setiap keputusan ada konsekuensinya sendiri-sendiri.

Terima kasih sudah membaca.