Setiap kata adalah doa.



Seorang sahabat bertanya kepada saya, "kenapa doa saya tidak dikabulkan?"

Saya jawab singkat, "Kamu punya banyak dosa."

Dia terdiam, menatap saya, dari tatapan matanya, dia tidak terima. Tetapi dia tidak membalas lagi. 

Saya tahu dia sedang kebingunan. Kemudian dia datang untuk curhat. Saya dengarkan, ketika waktunya saya menjawab setiap pertanyannya. Barulah saya keluarkan kata-kata yang menyakitkan.

Kata-kata yang menyakitkan level 1 : Berbasis Data

Setiap data belum tentu benar. Karena sebuah kebenaran perlu diuji.

Maka, untuk menenangkan orang yang punya masalah psikologis. Sedangkan ia adalah orang yang logis. Pertama kita akan menggunakan data untuk mematahkan asumsi-asumsinya. Setelah berhasil mematahkan semua asumsi-asumsinya. Barulah data yang kita punya kita masukkan kedalam pemahaman barunya.

Dalam kasus sahabat saya. Saya menyebut dosa, karena saya tahu dia orang yang religius. Orang yang religius harus diberi jawaban yang relate dengan kepribadiannya. Agar dia mendapatkan kemantapan atas solusi yang saya tawarkan.

Beda tipe orang, beda tipe solusi yang saya tawarkan. Tergantung, dia mau minta solusi dari jalur mana. Karena setiap orang punya tipe kepribadian yang berbeda.

Sahabat yang saya jawab di atas kebetulan beragama Islam. Maka pendekatan yang saya gunakan adalah dosa.

Beda lagi, jika sahabat saya yang kristen datang kepada saya minta solusi.

Sahabat saya yang kristen adalah seorang yang apatis. Dia (merasa) tidak butuh orang lain. Dan, kadang-kadang agnostik kalau lagi "edan".

"Gimana sih caranya bahagia." tanya sahabat kristen saya.

"Jangan pedulikan orang lain, jadilah egois."

Jawablah pertanyaan sesuai keinginan penanya.

Sebuah cara membahagiakan orang. Dalam case menjalani sesi curhat bersama sahabat. Jangan salah paham dulu. Kita sekarang membahas sesi curhat bersama sahabat. Sebelum sampai pada topik bercanda dengan doa.

Ketika seseorang curhat, sebenarnya dia tidak menginginkan solusi. Dia hanya ingin didengarkan. Jika seseorang mencari solusi dia tidak akan curhat. Tetapi minta solusi. See?

Jangan Bercanda dengan Doa-doamu

Kembali kepada sahabat saya yang kebetulan Islam.

Karena sudah bersahabat dengan dia selama lebih dari satu dekade. Saya tahu betul bagaimana kepribadiannya. Jadi, saya katakan apa yang dia butuhkan.

Jangan pernah ragu dengan doa-doamu.
Setiap doa akan dikabulkan.
Selama kamu meyakininya.

Sekali kamu ragu doamu akan terwujud.
Keraguanmulah yang nantinya terwujud.

Jangan pernah berpikir kalau Tuhan tidak bisa mengabulkkan doa-doamu.
Setiap inci keraguanmu, menandakan lemahnya imanmu

Ada dua cara berdoa, menurut saya
Pertama, berdoa sekali, kemudian lupakan 
cara ini pasti membuat kamu tidak pernah meragukan doamu

Kedua, berdoa berkali-kali sampai terwujud

Satu hal yang terlarang dalam berdoa
yaitu meragukan doa-doamu
alias bercanda dengan doa-doamu

Jangan pernah bercanda dengan doa-doamu
sekali kamu ragu
keraguanmulah yang terwujud

Sebelum Berdoa, Belajarlah Cara Berdoa

Sebelum kamu menyelesaikan sebuah masalah. Kamu harus punya ilmu menyelesaikan masalah. Sebelum kamu memberi orang lain uang, kamu harus punya uang.

Sebelum kamu bisa memberi orang lain kebahagiaan, kamu harus bahagia lebih dulu.

Bagaimana bisa orang telanjang memberimu pakaian?

Bahagia itu Apa?

Setiap perasaan ada definisinya.
Maka, untuk mencapai apa itu kebahagiaan. Pertama, kamu harus mendefinisikan apa itu kebahagiaan. Apa itu "BAHAGIA" VERSI KAMU.

Kalau kamu tidak bisa mendefinisikan apa itu kebahagiaan versi kamu. 
Maka, dijamin. Selamanya kamu tidak akan bisa bahagia. Kamu selamanya tidak akan menemukan kebahagiaan yang kamu cari.

Biasanya, definisi kebahagiaan itu seperti ini...

Saya bahagia jika punya INI dan ITU.
Saya bahagia jika PASANGAN SAYA melakukan INI dan ITU.
Saya bahagia jika SAYA MENDAPATKAN INI dan ITU.
Saya bahagia jika INDONESIA menang PIALA DUNIA.
Saya bahagia jika SI A bisa membahagiakan SAYA.

Cermati contoh-contoh definisi bahagia di atas.
Apakah sudah benar?

Untuk kamu yang merasa definisi kebahagiaan di atas sudah benar.

Benar atau tidak itu tidak menjadi masalah.

Karena setiap kebenaran ada sisi lainnya. Setiap kesalahan ada oposisinya.

Tetapi menurut saya,

Lagi-lagi, menurut saya...

KEBAHAGIAAN sulit tercapai karena kita MELETAKKAN syarat kebahagiaan di LUAR DIRI KITA. Di Luar seseuatu yang terjadi kepada DIRI KITA. Semakin jauh kita meletakkan syarat kebahagiaan kita. Semakin tidak mudah mencapainya.

Sebaliknya,

SEMAKIN DEKAT, SEMAKIN MUDAH SYARAT KEBAHAGIAAN KITA. SEMAKIN MUDAH KITA MERASAKAN KEBAHAGIAAN.

Simpelnya,

PERMUDAH SYARAT KEBAHAGIAANMU.

Semakin rumit, njelimet syarat kebahagiaanmu, maka semakin susah pula kamu merasa bahagia.

Bahagia itu mudah, kalau tau caranya.

***

sampai disini,

terima kasih sudah membaca.