Jangan pesimis dulu, Bosku.

Sedikit curhat, saya tipe orang yang kebanyakan ide. Semakin berumur, semakin saya menyadari bahwa ide itu penting. Tetapi tidak lebih penting, apa yang kita lakukan dengan ide tersebut.

Kebanyakan Ide itu Menyebalkan

Katanya sih, kebanyakan ide itu menunjukkan bahwa kita adalah orang yang cerdas. Oke, cerdas itu penting. Tetapi tidak lebih penting daripada apa yang kita lakukan dengan kecerdasan itu, bukan?
Bagi saya, kebanyakan ide itu menyebalkan. Semakin banyak hal yang memenuhi pikiran. Akibatnya kita terhalang untuk mengetahui jalur mana yang seharusnya kita ambil.
Menyebalkan itu ketika terlalu banyak ide brilian dan kita tak bisa berjalan ke manapun. Kita terpaku pada ilusi bahwa "kita orang cerdas".

Pada titik tertentu, menjadi bodoh itu menenangkan . . . sekaligus menakutkan.

Setiap pisau punya dua mata. Setiap koin punya dua sisi.
Segala sesuatu itu sangat tergantung bagaimana kita memaknainya. Hidup ini secara simpelnya adalah proses kita membaca dan memaknai hal-hal yang menerpa kita.
Tidak ada yang istimewa jika kamu selalu melihat dari sisi negatif, selalu apatis. Segala hal menjadi luar biasa, megah, mewah, jika kamu selalu menghargai apapun yang terjadi.

Sebenarnya, mau ngapain sih hidup ini?

Orang kota akan sering menanyakan ini, ketika teknologi sepuluh kali lebih modern dari sekarang. Semakin banyak pilihan, semakin sulit memilih. Bukan begitu?

Jika kamu tak bisa memilih, ide yang mana...

Jangan memaksakan diri untuk memilih. Ada baiknya, kamu berpikir sebaliknya. 
Bisakah ide yang memilih kita?

Lalu, bagaimana kita tahu kalau ide itu memilih kita?

Kalau menurut pengalaman saya, dalam studi kasus terapifobia.com 
Sempat saya take down, lalu saya mulai lagi. Take down beberapa kali.
Sampai sekarang menemukan model yang pas.

Saya memberlakukan terapifobia.com sebagai hobi saya. Sempat saya jual gratis juga. Lalu saya berlakukan berbayar lagi. Nothing to lose.

Saya mencoba berbagai model bisnis untuk terapifobia, sekarang lah yang paling nyaman buat saya.

Saya merasa terapifobia yang memilih saya. Karena, setiap kali take down, ada rasa bersalah. Banyak orang di luar saya menderita fobia, saya punya solusinya. Kalau saya diamkan, berarti mubazir.

Tuhan tidak suka sesuatu yang mubazir.

Pada akhirnya, saya menemukan "panggilan jiwa" dari menghidupkan kembali terapifobia.com

Dulu saya sering mendapat masalah untuk pemrograman e-commerce terapi fobia, tetapi sekarang saya nyaman di platform TokoTalk, dan tampilannya memuaskan, sistem mudah digunakan. untuk NGINTIP, KLIK DISINI atau TOKO.

Terus Mencari

Kalau bukan kamu mencari jawaban untuk dirimu. Kamu mau siapa yang mencarikan jawaban untukmu?

Manja amat sih.

Masih betah "bingung" dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di kepalamu?

Sudah kebelet membongkar "misteri" kan?